MEDIA PEMBELAJARAN

 MEDIA PEMBELAJARAN



Media pembelajaran merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembelajaran dan sama pentingnya dengan pembelajaran itu sendiri. dalam perkembangannya, dunia pendidikan termasuk yang paling diuntungkan dari kemajuan TI (teknologi informasi) karena memperoleh manfaat yang luar biasa. Salah satu manfaat dari penggunaan media pembelajaran adalah untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam dunia pendidikan, media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif.

Pada paket ini, mahasiswa dan mahasiswi diajak untuk membahas konsep dasar media pembelajaran yang memuat antara lain tentang; pengertian, ciri, prinsip fungsi dan manfaat media dalam proses pembelajaran PAI. Paket 1 ini sebagai pengantar bagi paket-paket sesudahnya.

1. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Dalam bahasa Arab, kata media atau perantara disebut dengan kata bentuk jamak dari. Jadi secara bahasa media berarti pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Secara lebih khusus, pengenalan media dalam proses belajar mengajar mendorong diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. AECT (Association of Education and Communication Technology) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Adapun National Education Association (NEA) mengartikan media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut . Fleming menyebut media media dengan istilah mendatar yang diartikan sebagai penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau peranannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar peserta didik dan isi pelajaran. Di samping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada peralatan paling canggih dapat disebut media. Ringkasnya media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran. Sementara itu, menurut Anderson, media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terwujudnya hubungan langsung antara karya seseorang pengembang mata pelajaran dengan para siswa. Secara umum wajarlah bila peranan guru yang menggunakan media pembelajaran sangatlah berbeda dari peranan seorang guru ‘biasa’. Menurut Azhar Arsyad  media pendidikan memiliki ciri-ciri

umum sebagai berikut :

1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal

sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat

dilihat, didengar, atau diraba dengan pancaindera.

2. Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai

software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam

perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada

peserta didik.

3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.

4. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik

di dalam maupun di luar kelas.

5. Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru

dan peserta didik dalam proses pembelajaran.

6. Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya : radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya : film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya : modul : komputer, radio, tape /kaset, video, recorder)

Berdasarkan berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta kemauan peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Pengertian media pendidikan seperti di atas didasarkan pada asumsi bahwa proses pendidikan/pembelajaran identik dengan sebuah proses komunikasi. Dalam proses komunikasi terdapat komponenkomponen yang terlibat di dalamnya, yaitu sumber pesan, pesan, penerima pesan, media dan umpan balik. Sumber pesan yaitu sesuatu (orang) yang menyampaikan pesan). Pesan adalah isi didikan/isi ajaran yang tertuang dalam kurikulum yang dituangkan ke dalam simbol-simbol tertentu (encoding). Penerima pesan adalah peserta didik dengan menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).

2. Landasan Teori

Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bruner ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Sebagai gambaran misalnya, belajar memahami apa dan bagaimana shalat atau wudhu. Dalam tingkatan pengalaman langsung untuk memperoleh pemahaman peserta didik tentang shalat atau wudhu secara langsung ia mempraktekkan atau mengerjakan shalat atau wudhu. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang shalat dan wudhu dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video tentang shalat dan wudhu. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, peserta didik memahaminya lewat membaca atau mendengarkan uraian tentang shalat dan wudhu.

 Uraian di atas memberikan petunjuk bahwa agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, peserta didik sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berupaya untuk menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan.d engan demikian, peserta didik diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.

Levie & Levie yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung hubungkan fakta dan konsep. Di lain pihak stimulus verbal memberi hasil belajar yang lebih apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang berturut-turut (sekuensial). Hal ini merupakan salah satu bukti dukungan atas konsep dual coding hypothesis (hipotesis koding ganda) dari Paivio. Konsep itu mengatakan bahwa ada dua sistem ingatan manusia, satu untuk mengolah simbol-simbol verbal kemudian menyimpannya dalam bentuk proposisi image, dan yang lainnya untuk mengolah image nonverbal yang kemudian disimpan dalam bentuk proposisi verbal.

Belajar dengan menggunakan indera ganda-pandang dan dengan berdasarkan konsep di atas akan memberikan keuntungan bagi peserta didik. Peserta didik akan belajar lebih banyak daripada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus pandang atau hanya dengan stimulus dengar. Para ahli memiliki pandangan yang searah mengenai hal itu. Perbandingan pemerolehan hasil belajar melalui indera pandang dan indera dengar sangat menonjol perbedaannya. Kurang lebih 90% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indera pandang dan hanya sekitar 5% diperoleh melalui indera dengan dan 5% lagi dengan indera lainnya. Sementara itu, Dale memperkirakan bahwa pemerolehan hasil belajar melalui indera pandang berkisar 75% melalui indera dengar sekitar 13% dan melalui indera lainnya sekitar 12%. Salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Come of Experience (Kerucut Pengalaman Dale) sebagai berikut :

Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dan konsep tiga tingkatan pengalaman yang dikemukakan oleh Bruner sebagaimana diuraikan sebelumnya. Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (konkret), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiram, sampai kepada lambang verbal (abstrak). Semakin ke atas di puncak kerucut semakin abstrak media penyampai pesan itu. Perlu dicatat bahwa urut-urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi mengajar belajar harus selalu dimulai dari pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok peserta didik yang dihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajarnya. Dasar pengembangan kerucut di atas bukanlah tingkat kesulitan, melainkan tingkat keabstrakan jumlah jenis indera yang turut serta selama penerimaan isi pengajaran atau pesan. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu, oleh karena ia melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba. Ini dikenal dengan learning by doing misalnya keikutsertaan dalam kegiatan pengelolaan zakat, penyembelihan hewan korban, shalat berjamaah, dan lain-lain. Pengalaman-pengalaman tersebut memberikan dampak langsung terhadap pemerolehan dan pertumbuhan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik.

Tingkat keabstrakan pesan akan semakin tinggi ketika pesan itu dituangkan ke dalam lambang-lambang seperti bagan, grafik, atau kata. Jika pesan terkandung dalam lambang-lambang seperti itu, indera yang dilibatkan untuk menafsirkannya semakin terbatas, yakni indera penglihatan atau indera pendengaran. Meskipun tingkat partisipasi fisik berkurang, keterlibatan imajinatif semakin bertambah dan berkembang. Sesungguhnya, pengalaman konkret dan pengalaman abstrak dialami silih berganti : hasil belajar dari pengalaman langsung mengubah dan memperluas jangkauan abstraksi seseorang dan sebaliknya, kemampuan Interpretasi lambang kata membantu seseorang untuk memahami pengalaman yang didalamnya ia terlibat langsung. Di samping itu, agar proses belajar dapat efektif perlu juga disesuaikan dengan tipe atau gaya belajar peserta didik. Gaya belajar adalah kecenderungan seseorang untuk menggunakan cara tertentu dalam belajar sehingga akan dapat belajar dengan baik. Secara umum dikenal tiga macam gaya belajar, yaitu visual, auditorial dan kinestetik. Belajar visual adalah belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar auditorial melakukannya melalui apa yang mereka dengar, sedangkan kinestetik belajar lewat gerak dan sentuhan.

Ciri-ciri gaya belajar visual adalah (a) teliti terhadap yang detail, (b)

mengingat dengan mudah apa yang dilihat, (c) mempunyai masalah dengan

instruksi lisan, (d) tidak mudah tergantung dengan suara gaduh, (e) pembaca

cepat dan tekun, (f) lebih suka membaca daripada dibacakan, (g) lebih suka

metode demonstrasi daripada ceramah, (h) bila menyampaikan gagasan sulit

memilih kata, (i) rapi dan teratur, dan (j) penampilan sangat penting.

Ciri-ciri gaya belajar auditorial adalah : (a) bicara pada diri sendiri saat

bekerja, (b) konsentrasi mudah terganggu oleh suara ribut, (c) senang bersuara

keras ketika membaca, (d) sulit menulis, tapi mudah bercerita, (e) pembicara

yang fasih, (f) sulit belajar dalam suasana bising, (g) lebih suka musik

daripada lukisan, (h) bicara dalam irama yang terpola, (i) lebih suka gurauan

lisan daripada membaca buku humor, dan (j) mudah menirukan nada, irama

dan warna suara.

Adapun ciri-ciri gaya belajar kinestetik adalah : (a) berbicara dengan

perlahan, (b) menanggapi perhatian fisik, (c) menyentuh orang untuk

mendapat perhatian, (d) banyak bergerak dan selalu berorientasi pada fisik, (e)

menggunakan jari sebagai penunjuk dalam membaca, 9f) banyak

menggunakan isyarat tubuh, (g) tidak bisa duduk diam dalam waktu lama, (b)

menyukai permainan yang menyibukkan, (i) selalu ingin melakukan sesuatu,

dan (j) tidak mudah mengingat letak geografi.

Adanya ragam gaya belajar yang dimiliki peserta didik tersebut

harusnya dijadikan pertimbangan guru dalam memilih dan menggunakan

media pembelajaran. Jika di suatu kelas mayoritas peserta didiknya memiliki

gaya belajar visual maka hendaknya guru menggunakan media yang berbasis

visual. Bila mayoritas peserta didik memiliki gaya belajar auditorial, maka

guru hendaknya menggunakan media yang berbasis audisi. Demikian

seterusnya jika di suatu kelas kondisi gaya belajar peserta didiknya beragam,

maka guru harus menggunakan media pembelajaran yang bervariasi sesuai

dengan variasi gaya belajar peserta didik, sehingga semua peserta didik akan

terlayani dengan baik dan dapat belajar secara lebih efektif.

Gerlach & Ely mengemukakan tiga ciri media yang merupakan

petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan

oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien)

melakukannya (Azhar Arsyad, 2005 : 12).

Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

1) Ciri Fiksatif (Fixative Property)

Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan,

melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu

peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

Media Pembelajaran PAI

Konsep Dasar Media Pembelajaran 1 - 11

seperti fotografi, video tape, audio tape, disket komputer, dan film. Suatu

objek yang telah diambil gambarnya (direkam) dengan kamera atau video

kamera dengan mudah dapat direproduksi dengan mudah kapan saja

diperlukan. Dengan ciri fiksatif ini, media memungkinkan suatu rekaman

kejadian atau obyek yang terjadi pada satu waktu tertentu

ditransportasikan tanpa mengenal waktu. Contohnya adalah peristiwa

tsunami, gempa bumi, banjir, dan sebagainya dapat diabadikan dengan

rekaman video, pelaksanaan ibadah haji juga dapat direkam dengan

kamera atau alat perekam audio visual sehingga dapat digunakan sebagai

media pendidikan agama Islam.

Ciri fiksatif ini amat penting bagi guru karena kejadian-kejadian

atau objek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang

ada dapat digunakan setiap saat. Peristiwa yang kejadiannya hanya sekali

(dalam satu dekade atau satu abad) dapat diabadikan dan disusun kembali

untuk keperluan pembelajaran. Prosedur laboratorium yang rumit dapat

direkam dan diatur untuk kemudian direproduksi berapa kali pun pada

saat diperlukan. Demikian pula kegiatan peserta didik dapat direkam

untuk kemudian dianalisa dan dikritik oleh peserta didik sejawat baik

secara perorangan ataupun secara kelompok.

2) Ciri Manipulatif (Manipulative Property)

Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena

media memiliki ciri manipulative. Kejadian yang memakan waktu

berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan dapat disajikan kepada peserta

didik dalam waktu yang lebih singkat lima sampai sepuluh menit.

Misalnya, bagaimana proses pelaksanaan ibadah haji dapat direkam dan

diperpendek prosesnya menjadi lima sampai sepuluh menit, demikian

pula proses kejadian manusia mulai dari pertemuan sel telur dengan

sperma hingga lahir menjadi seorang bayi. Disamping dapat dipercepat,

suatu kejadian dapat pula diperlambat pada saat menayangkan kembali

hasil suatu rekaman video. Misalnya, proses terjadinya gempa bumi yang

hanya kurang dari satu menit dapat diperlambat sehingga lebih mudah

dipahami oleh peserta didik bagaimana proses terjadinya gempa tersebut.

3) Ciri Distributif (Distributive Property)

Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau

kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian

tersebut disajikan kepada sejumlah besar peserta didik dengan stimulus

pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu. Dewasa ini,

distribusi media tidak hanya terbatas pada satu kelas atau beberapa kelas

pada sekolah-sekolah di dalam suatu wilayah tertentu, tetapi juga media

itu, misalnya rekaman video, audio, disket komputer dapat disebut ke

seluruh penjuru tempat yang diinginkan kapan saja, sehingga media

tersebut dapat digunakan untuk banyak kelompok di tempat yang berbeda

dalam waktu yang sama.

Sekali informasi direkam dalam format media apa saja, ia dapat

direproduksi seberapa kali pun dan siap digunakan secara bersamaan di

berbagai tempat atau digunakan secara berulang-ulang di suatu tempat.

Konsistensi informasi yang telah direkam akan terjamin sama atau

hampir sama dengan aslinya.

b. Fungsi dan Kegunaan Media Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran melibatkan berbagai komponen. Salah satunya

yang tidak kalah penting adalah komponen media. Media memiliki fungsi

dan kegunaan yang sangat penting untuk membantu kelancaran proses

pembelajaran dan efektivitas pencapaian hasil belajar.

1) Fungsi Media Pembelajaran

Menurut Levie dan Lentz (Azhar Arsyad, 2005:16), khususnya

media visual, mengemukakan bahwa media pendidikan memiliki empat

fungsi yaitu fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi

kompensatoris. Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik

dan mengarahkan perhatian peserta didik untuk berkonsentrasi kepada isi

pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau

menyertai teks materi pelajaran. Sering kali pada awal pelajaran peserta

didik tidak tertarik dengan materi pelajaran atau mata pelajaran itu

merupakan salah satu pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka

sehingga mereka tidak memperhatikan. Media gambar khususnya gambar

yang diproyeksikan melalui overhead projector (OHP) dapat

menerangkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada pelajaran yang

akan mereka terima. Dengan demikian, kemungkinan untuk memperoleh

dan mengingat isi pelajaran semakin besar.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan

peserta didik ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar.

Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap peserta

didik, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.

Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan visual atau gambar

memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat

informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi

kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa

media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu

peserta didik yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan

informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk

mengakomodasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk

mengakomodasikan peserta didik yang lemah dan lambat menerima dan

memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara

verbal.

Menurut Kemp & Dayton (1985:28), media pembelajaran dapat

memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk

perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya,

yaitu (a) memotivasi minat atau tindakan, (b) menyajikan informasi, dan

(c) memberi instruksi. Untuk memenuhi fungsi motivasi, media

pembelajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan.

Hasil yang diharapkan adalah melahirkan minat dan merangsang para

peserta didik atau pendengar untuk bertindak (turut memikul tanggung

jawab, melayani secara sukarela, atau memberikan sumbangan material).

Pencapaian tujuan ini akan mempengaruhi sikap, nilai, dan emosi.

Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan

dalam rangka penyajian informasi dihadapan sekelompok peserta didik.

Isi dan bentuk penyajian bersifat amat umum, berfungsi sebagai

pengantar, ringkasan laporan, atau pengetahuan latar belakang. Penyajian

dapat pula berbentuk luburan, drama, atau teknik motivasi. Ketika

mendengar atau menonton bahan informasi, para peserta didik bersifat

pasif. Partisipasi yang diharapkan dari peserta didik bersifat pasif.

Partisipasi yang diharapkan dari peserta didik hanya terbatas pada

persetujuan atau ketidaksetujuan mereka secara mental, atau terbatas

pada perasaan tidak/kurang senang, netral, atau senang.

Media berfungsi untuk tujuan instruksi di mana informasi yang

terdapat dalam media itu harus melibatkan peserta didik baik dalam

benak atau metal maupun dalam aktifitas yang nyata sehingga dapat

terjadi. Materi harus dirancang secara lebih sistematis dan psikologis

dilihat dari segi prinsip-prinsip belajar agar menyiapkan instruksi yang

efektif. Di samping menyenangkan, media pembelajaran harus dapat

memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memenuhi kebutuhan

perorangan peserta didik.

2) Kegunaan Media Pembelajaran

Berbagai kegiatan atau manfaat media pembelajaran telah dibahas

oleh banyak ahli. Arief S. Sadiman, dkk (2005 : 17-18) menyampaikan

kegunaan-kegunaan media pendidikan secara umum sebagai berikut :

a) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat visual.

b) Mengatasi keterbatasan ruang waktu, dan daya indera, seperti :

(1) Objek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan langsung di

ruang kelas dapat diganti dengan gambar, foto, sldie, realita, film,

radio, atau model.

(2) Objek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera

dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, slide, atau

gambar.

(3) Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam

puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video, film, foto,

slide di samping secara verbal.

(4) Objek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat

ditampilkan melalui film, gambar, slide, atau stimulusi komputer.

(5) Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat

distimulasikan dengan media seperti komputer, film, dan video.

(6) Peristiwa alam seperti terjadinya letusan gunung berapi atau proses

yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses

kepompong menjadi kupu-kupu dapat disajikan dengan teknikteknik

rekaman seperti time lapse untuk film, video, slide, atau

stimulasi komputer.

c) Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat

mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal media pendidikan

berguna untuk meningkatkan kegairahan belajar, memungkinkan

peserta didik belajar sendiri berdasarkan minat dan kemampuannya,

dan memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara peserta didik

dengan lingkungan dan kenyataan.

d) Memberikan rangsangan yang sama, dapat menyamakan pengalaman

dan persepsi peserta didik terhadap isi pelajaran.

e) Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada

peserta didik tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta

memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru,

masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata,

kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.

Menurut Hamalik (1986), pemanfaatan, media dalam pembelajaran

dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, meningkatkan motivasi

dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan berpengaruh secara

psikologis kepada peserta didik. Selanjutnya diungkapkan bahwa

penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan

proses pembelajaran dan penyampaian informasi (pesan dan isi

pelajaran) pada saat itu. Kehadiran media dalam pembelajaran juga

dikatakan dapat membantu peningkatan pemahaman peserta didik,

penyajian data/informasi lebih menarik dan terpercaya, memudahkan

penafsiran data dan memadatkan informasi. Jadi dalam hal ini dikatakan

bahwa fungsi media adalah sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar

mengajar.

Menurut Kemp & Dayton (Azhar Arsyad, 2005 : 21-22), meskipun

telah lama disadari bahwa banyak keuntungan penggunaan media

pembelajaran, penerimaannya serta pengintegrasiannya ke dalam

program-program pengajaran berjalan amat lambat. Mereka

mengemukakan beberapa hasil penelitian yang menunjukkan dampak

positif dari penggunaan media sebagai bagian integral pembelajaran di

kelas atau sebagai cara utama pembelajaran langsung sebagai berikut :

a) Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang

melihat atau mendengar penyajian melalui media menerima pesan

yang sama. Meskipun para guru menafsirkan isi pelajaran dengan cara

yang berbeda-beda dengan penggunaan media ragam hasil tafsiran itu

dapat dikurangi sehingga informasi yang sama dapat disampaikan

kepada peserta didik sebagai landasan untuk pengkajian, latihan, dan

aplikasi lebih lanjut.

b) Pembelajaran bisa lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai

penarik perhatian dan peserta didik tetap terjaga dan memperhatikan.

Kejelasan dan keruntutan pesan, daya tarik image yang berubah-ubah,

penggunaan efek khusus yang dapat menimbulkan keingintahuan

menyebabkan peserta didik tertawa dan berpikir, yang kesemuanya

menunjukkan bahwa media memiliki aspek motivasi dan

meningkatkan minat.

c) Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori

belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal

partisipasi peserta didik, umpan balik, dan penguatan.

d) Lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat karena

kebanyakan media hanya memerlukan waktu singkat untuk

mengantarkan. Pesan-pesan dan isi pelajaran dalam jumlah yang

cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh peserta didik.

e) Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan

gambar sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan

elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan

dengan baik, spesifik, dan jelas.

f) Pembelajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau

diperlukan terutama jika media pembelajaran dirancang untuk

penggunaan secara individu.

g) Sikap positif peserta didik terhadap apa yang mereka pelajari dan

terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.

h) Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif beban guru untuk

penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat

dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan

perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar

misalnya sebagai konsultan atau penasihat peserta didik. mengemukakan kegunaan/manfaat media

pembelajaran dalam proses belajar peserta didik, yaitu :

a) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik sehingga

dapat menumbuhkan motivasi belajar ;

b) Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih

dipahami oleh peserta didik dan memungkinkannya menguasai dan

mencapai tujuan pembelajaran.

c) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata

komuni9kasi verbal melalui penurunan kata-kata oleh guru, sehingga peserta didik tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga apalagi

kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.

d) Peserta didik dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab

tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain

seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan dan

lain-lain.

Dari uraian dan pendapat beberapa ahli di atas, dapatlah

disimpulkan beberapa kegunaan praktis dari penggunaan media

pembelajaran di dalam proses belajar mengajar, adalah sebagai berikut :

a) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian peran dan informasi

sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil

belajar.

b) Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian

anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang

lebih langsung antara peserta didik dan lingkungannya, dan

kemungkinan peserta didik untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan

kemampuan dan minatnya.

c) Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu.

 

1. Jenis-jenis media pembelajaran

Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembeljaran dapat

dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu (1) media hasil teknologi

cetak, (2) media hasil teknologi audio-visual, (3) media hasil teknologi yang

berdasarkan computer, dan (4) media hasil gabungan teknologi cetak dan

computer.

Teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan

materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses percetakan

mekanis atau fotografis. Kelompok media hasil teknologi cetak meliputi teks,

grafik, foto atau representasi fotografik dan reproduksi. Materi cetak dan visual

merupakan dasar pengembangan dan penggunaan kebanyakan materi

pengajaran lainnya. Teknologi ini menghasilkan materi dalam bentuk salinan

tercetak. Dua komponen pokok teknologi ini adalah materi teks verbal dan

materi visual yang dikembangkan berdasarkan teori yang berkaitan dengan

persepsi visual, membaca, memproses informasi, dan teori belajar. Teknologi

cetak memiliki ciri-ciri berikut:

a. Teks dibaca secara linear, sedangkan visual diamati berdasarkan ruang;

b. Baik teks maupun visual menampilkan komunikasi satu arah dan reseptif;

c. Teks dan visual ditampilkan statis (diam);

d. Pengembangnnya sangat tergantung kepada prinsip-prinsip kebahasaan dan

persepsi visual;

e. Baik teks maupun visual berorientasi (berpusat) pada siswa;

f. Informasi dapat diatur kembali atau di tata ulang oleh pemakai.

Teknologi audio-visual cara menghasilkan atau menyampaikan materi

dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan

pesan- pesan audio dan visual. Pengajaran melalui audio-visual jelas bercirikan

pemakaian perangkat keras selama proses belajar, seperti mesin proyektor film,

tape, rekorder, dan proyektor visual yang lebar. Jadi, pengajaran melalui audiodigilib.

visual adalah produksi dan penggunaan materi yang pennyarapannya melalui

pandangan dan pendengaran serta tidak seluruhnya tergantung kepada

pemahaman kata atau simbol-simbol yang serupa. Ciri-ciri utama teknologi

media audio-visual adalah sebagai berikut:

a. Mereka biasannya bersifat linear;

b. Mereka biasannya menyajikan visual yang dinamis;

c. Mereka digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh

perancang / pembuatnya;

d. Mereka merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak;

e. Mereka dikembangkan menurut prinsip psikologis behaviorisme dan

kognotif;

f. Umumnya mereka berorientasi kepada guru dengan tingkat pelibatan

interaktif murid yang rendah.

Teknologi berbasis computer merupakan cara menghasilkan atau

menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis

mikro-prosesor. Perbedaan antara media yang dihasilkan oleh teknologi

berbasis computer dengan yang dihasilkan dari dua teknologi lainnya adalah

karena informasi atau materi disimpan dalam bentuk digital, bukan dalam

bentuk cetakan atau visual. Pada dasarnya teknologi berbasis computer

menggunakan layar kaca untukn menyajikan informasi kepada siswa. Berbagai

jenis aplikasi teknologi berbasis kompuer dalam pengajaran umumnya dikenal

sebagai computer-assisted instruction (mengajaran dengan bantuan computer).

Aplikasi tersebut apabila dilihat dari cara penyajian dan tujuan yang ingin

dicapai meliputi tutorial (penyajian materi pelajaran secara bertahap), drills

and practice (latihan untuk membantu siswa menguasai materi yang telah

dipelajari sebelumnya), permainan dan simulasi (latihan mengaplikasikan

pengetahuan dan keterampilan yang baru dipelajari), dan basis data ( sumber

yang dapat membantu sisiwa menambah informasi dan pengetahuannya sesuai

dengan keingginan masing-masing). Beberapa cirri media yang dihasilkan

teknologi berbasis komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak)

adalah sebagai berikut:

a. Mereka dapat digunakan secara acak, non-sekuensial, atau secara linear;

b. Mereka dapat digunakan berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan

keinginan perancang/ pengembang sebagaimana direncanakannnya;

c. Biasanya gagasan-gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata,

simbol dan grafik;

d. Prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini;

e. Pembelajaran dapat berorientasi siswa dan melibatkan interaktifitas siswa

yang tinggi

Teknologi gabungan adalah cara untuk menghasilnan dan

menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa bentuk

media yang dikendalikan oleh komputer. Perpaduan beberapa jenis teknologi

ini dianggap teknik yang paling canggih apabila dikendalikan oleh komputer

yang memiliki kemampuan yang hebat seperti jumlah random access memory

yang besar, hard disk yang besar, dan monitor yang beresolusi tinggi ditambah

dengan periperal (alat-alat tambahan seperti videodisc player perangkat keras

untuk bergabung dalam satu jaringan, dan system audio). Beberapa ciri utama

teknologi berbasis komputer adalah sebagai berikut:

a. Ia dapat digunakan secara acak, sekuensial, secara linear.

b. Ia dapat digunakan sesuai dengan keingginan siswa, bukan saja dengan cara

yang direncanan dan diinginkan oleh perancangnya.

c. Gagasan-gagasan sering disajikan secara realistik dalam konteks

pengalaman siswa manurut apa yang relevan dengan siswa, dan dibawah

pengendalian siswa;

d. Prinsip ilmu kognitif dan konstruktivisme diterapkan dalam pengembangan

dan penggunaan pelajaran;

e. Pembelajaran ditata dan terpusat pada lingkup kognitif sehingga

pengetahuan yang dikuasai jika pelajaran itu digunakan;

f. Bahan-bahan pelajaran melibatkan banyak interaktivitas siswa;

g. Bahan-bahan pelajaran memadukan dan visual dari berbagai sumber.

Pengelompokan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi

perkembangan teknologi oleh seels & Glasgow (1990:181-183) dibagi kedalam

dua kategori luas, yaitu: pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi

mutakhir.

a. Pilihan Media Tradisional

1) Visual diam yang diproyeksikan

- Proyeksi opaque (tak-tembus pandang)

- Proyeksi overhead

- Slides

- Filmstips

2) Visual yang tak di proyeksikan

- Gambar, poster

- Foto

- Charts, grafik, diagram

- Pameran, papan info, papan-bulu

3) Audio

- Rekaman piringan

- Pita-kaset, reel, cartridge

4) Penyajian multimedia

- Slide plus suara (tape)

- Multi- image

5) Visual dinamis yang diproyeksikan

- film

- Televisi

- video

6) Cetak

- buku teks

- modul, teks terprogram

- workbook

- majalah ilmiah, berkala

- lembaran lepas (hand-out)

7) Permainan

- teka-teki

- simulasi

- permainan papan

8) Realita

- model

- specimen (contoh)

- manipulasi (peta, boneka)

b. Pilihan Media Teknologi Mutakhir

1) Media berbasis telekomunikasi

- Teleconference

- Kuliah jarak jauh

2) Media berbasis mikroprosesor

- Computer-assisted instruction

- Permainan komputer

- System tutor intelejen

- Interaktif

- Hypermedia

- Compact(video) disc


NAMA : KHAIRUL YUDA

NIM : 11901251

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM

Sistem Evaluasi

Manajemen Sekolah